PEMBINAAN PESTIVAL PANGAN LOKAL

PEMBINAAN PESTIVAL PANGAN LOKAL

 


PEMBINAAN PESTIVAL PANGAN LOKAL


 



Serang, 10/08/2020 -Ketahanan pangan merupakan salah satu syarat penting menurunkan angka kelaparan dan kemiskinan sebagai target pertama dari MDGs dan mencapai kesejahteraan rakyat. Kemiskinan merupakan penyebab ketidaktersediaan pangan di tingkat keluarga  sehingga terjadi kekurangan gizi. Kurang gizi berdampak terhadap tingginya angka kesakitan pada anak. Perbaikan gizi dapat dilaksanakan tanpa harus menunggu rakyat bebas dari kemiskinan. Program pangan dan gizi disusun untuk mengatasi permasalahan pangan dan gizi. Tujuan program pangan dan gizi adalah untuk menyediakan pangan dalam jumlah, jenis dan mutu yang baik guna mencapai status gizi yang baik pula. Sasaran perbaikan gizi PJP II diantaranya adalah terwujudnya kesadaran gizi yang tinggi di masyarakat, yang tercermin dari pola konsumsi pangan masyarakat yang beragam dan bermutu gizi seimbang.


Kebijakan konsumsi pangan dimasa lalu belum memberikan perhatian yang seimbang pada pangan non beras, terutama penganeka ragaman konsumsi pangan, serta lemahnya program pendidikan gizi dan pangan bagi masyarakat. Kondisi ini telah mengubah pola konsumsi masyarakat dimana berbagai pangan lokal seperti jagung, umbi-umbian, sagu dan sebagainya dianggap sebagai bahan pangan inferior serta pola konsumsi pangan masyarakat didominasi oleh beras. Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan telah berubah sesuai dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya.


Kita menyadari bahwa tidak ada satupun bahan pangan yang mengandung gizi lengkap. Semakin tinggi keragaman pangan dikonsumsi semakin tinggi pula asupan gizinya. Sebaliknya konsumsi pangan yang tidak beragam dapat menurunkan mutu konsumsi sehingga akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia. Untuk menjawab tantangan kedepan perlu dibangun sumberdaya manusia yang sehat, tangguh fisik dan mental serta cerdas melalui pendekatan penganekaragaman konsumsi pangan.


      Perubahan perilaku masyarakat terhadap pola konsumsi dari konsumsi hanya bergantung pada beras, memerlukan berbagai upaya baik dari sisi perencanaan aksi dan promosinya. Peningkatan citra pangan inferior seperti singkong, talas, ubi jalar, ganyong dan lain-lain harus dilakukan dengan berbagai cara seperti perlombaan, pameran, seminar, talkshow, promosi melalui media cetak dan  media elektronik dan lain-lain. Diharapkan dengan menggunakan berbagi media secara perlahan akan terjadi perubahan perilaku dan cara berpikir masyarakat terhadap konsumsi pangannya.


           


Olahan Pangan Lokal  yang Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) merupakan sebuah rangkaian kegiatan untuk menggalakan sumberdaya pangan lokal yang ada disekitar kita sehingga kita dapat mengembangkan berbagai menu pangan lokal yang dapat disajikan menjadi hidangan yang sangat menarik untuk di konsumsi sehari-hari untuk mengurangi ketergantungan kepada pangan pokok yang berasal dari beras dan terigu, pada pembukaan acara ini diwakili oleh Bpk. Moh. Ansori SKM,M.Kes Selaku Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan


Bpk. M. Ansori sedang menjelaskan Olahan Pangan Lokal

 “Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten dalam upaya mempromosikan dan memanfaatkan potensi pangan berbasis sumberdaya lokal baik yang berasal dari sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang terdapat di provinsi Banten. Pangan lokal memiliki nilai gizi yang baik sebagai makanan fungsional sehingga dapat mewujudkan sumberdaya yang berkualitas” pungkasnya.


 


Pembinaan Pestival Pangan Lokal merupakan salah satu implementasi dari program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Perlu    di sampaikan  dengan dilaksanakannya program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan diharapkan dijadikan sbb:


1.       Sebagai upaya mempercepat program penurunan konsumsi beras 1,5% per tahun dan peningkatan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dengan tidak bergantung pada beras dan terigu.


2.       Dengan memanfaatkan aneka jenis pangan berbasis sumberdaya lokal akan lebih mudah untuk mendapatkannya sehingga hal ini dapat mengatasi masalah gizi diantaranya balita yang pendek (stunting), yaitu kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis.


 


Dengan  diadakannya Pestival Pangan Lokal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam rangka implementasi peraturan presiden no 22 tahun 2009 dan peraturan gubernur nomor 9 tahun 2010 tentang percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Selain itu LCM-B2SA berbasis sumberdaya lokal ini dapat dijadikan sebagai tempat pembelajaran  dalam menentukan pilihan-pilihan makanan yang memenuhi syarat gizi bagi keluarga terutama pada ibu hamil, ibu menyusui, remaja putri dan balita untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Dengan demikian kejadian anemia gizi dan kekurangan gizi dapat diturunkan.


Ada beberapa faktor yang mendukung serta berkomitmen untuk mendorong dan memantapkan pelaksanaan penganekaragaman konsumsi pangan:     


1.      Faktor penentu mutu makanan adalah keanekaragaman jenis pangan, keseimbangan gizi dan keamanan pangan oleh sebab itu perlu adanya upaya untuk menyajikan pangan-pangan olahan yang aman untuk dikonsumsi  yang berasal dari pangan lokal sehingga dapat meningkatkan citranya


2.      Adanya upaya untuk mengurangi penggunaan beras dan tepung terigu dalam mengolah pangannya agar produk-produk pangan lokal dapat dimanfaatkan dan dijadikan makanan yang memiliki cita rasa tinggi melalui seni kuliner.


 


Dengan demikian manfaat dan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya dan keluarga pada khususnya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendorong terwujudnya konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, serta memperoleh kesehatan yang baik


Bahan Pangan lokal ketika dikemas dengan sedemikian menarik maka akan memiliki nilai dan daya tarik tersendiri.  Hal ini sangat terbukti dengan adanya beragam olahan bahan lokal non beras dan non terigu yang diadu dalam ajang Lomba Olahan Pangan Lokal  Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) Bagi Siswa SLTA Tingkat Provinsi Banten Tahun 2018, Kamis (25/10).


Tujuan utama diadakan Pestival Pangan Lokal adalah untuk membudayakan pengolahan pangan lokal dengan memperhatikan unsur B2SA yang memenuhi unsur karbohidrat, protein, maupun vitamin & mineral dalam menu makanan sehari-hari masyarakat Provinsi Banten. Pemenang juara satu akan mewakili Provinsi Banten dalam ajang yang sama di tingkat Nasional pada tahun 2018 mendatang di Banjarmasin Kalimantan Selatan.


 


 Beras dan tepung yang biasanya jadi ketergantung masyarakat untuk dikonsumsi dalam memenuhi sumber karbohidrat,   maka pada acara kali ini pakan alternatif dijadikan  sumber olahan yang menarik, seperti singkong, ubi rambat, serta jagung  yang merupakan   potensi atau komoditi lokal yang dapat memenuhi karbohidrat.


Melalui lomba B2SA ini, lanjutnya, akan dijadikan sebagai ajang memperkenalkan dan mempromosikan keanekaragaman  bahan makanan yang bisa diolah menjadi masakan, yang memiliki cita rasa khas dan bergizi, serta dapat memasyarakatkan keanekaragaman konsumsi pangan lokal di Banten.


 


Share :

Add New Comment

 Your Comment has been sent successfully. Thank you!   Refresh
Error: Please try again