RAKOR PENYUSUNAN NERACA BAHAN MAKANAN (NBM) TAHUN 2021

RAKOR PENYUSUNAN NERACA BAHAN MAKANAN (NBM) TAHUN 2021

 

RAKOR PENYUSUNAN NERACA BAHAN MAKANAN (NBM) TAHUN 2021

 


Serang,08/03/2021 -Neraca Bahan Makanan (NBM) adalah merupakan salah satu alat untuk mengetahui kondisi penyediaan dan penggunaan pangan di suatu wilayah baik lingkup Kabupaten/Kota, Provinsi maupun Negara. Neraca Bahan Makanan (NBM) memuat informasi mengenai produksi pangan, stok pangan, ekspor impor, pangan, penggunaan untuk industri dan non industri hingga pakan, bibit, serta pangan tercecer.

 

Neraca Bahan Makanan disusun beberapa diantarany ialah:

1.   Menyediakan data/informasi tentang jenis bahan makanan yang diproduksi daerah, yang didatangkan dari luar daerah, diproses oleh industri, untuk bibit, makanan ternak dan yang tersedia untuk konsumsi penduduk per kapita per tahun dan per hari.

2.   Menyediakan data/informasi mengenai pola umum dari susunan bahan makanan yang diterjemahkan dalam satuan kalori. Protein dan lemak yang tersedia untuk konsumsi penduduk.

3.  Menyediakan data sebagai bahan dasar agar evaluasi kegiatan program dan perencanaan program yang menyangkut masalah pangan dan gizi.

 

Ada dua komponen dalam Neraca bahan makanan yaitu Penyediaan (supply ) dan Penggunaan (utilization) Total Penyediaan Pangan (supply pangan) didapat dari penjumlahan total produksi daerah ditambah impor pangan dikurang ekspor dan stok. Sedangkan total penggunaan (utilization) adalah bahan makanan ditambah pakan ditambah bibit ditambah tercecer ditambah untuk keperluan industry.

 

Jenis bahan makanan adalah semua jenis bahan makanan yang dapat/lazim dimakan penduduk, baik yang diperdagangkan maupun tidak. Bahan makanan yang dicantumkan dalam kolom NBM adalah semua jenis bahan makanan baik nabati maupun hewani yang umum tersedia untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan makanan tersebut dikelompokkan menurut jenisnya yang diikuti prosesnya dari produksi sampai dengan dapat dipasarkan/ dikonsumsi dalam bentuk belum berubah atau bentuk lain yang berbeda sama sekali setelah melalui proses pengolahan. Jenis bahan makanan ini secara umum dikelompokkan kedalam sebelas kelompok bahan makanan yaitu padi – padian, makanan berpati, gula, buah/biji berminyak, buah-buahan, sayur-sayuran, daging, telur, susu, ikan serta kelompok minyak dan lemak.

 

Neraca Bahan Makanan (NBM) merupakan salah satu alat yang digunakan untuk menganalisis situasi ketersediaan pangan di suatu negara/wilayah dalam kurun waktu tertentu berdasarkan aspek penyediaan dan pemanfaatan pangan. Hasil dari Neraca Bahan Makanan tersebut adalah jumlah pangan yang tersedia di pasar untuk dikonsumsi pada kurun waktu tertentu dalam bentuk energi per kg/kapita/hari, protein per g/kapita/hari dan lemak per g/kapita/hari. Informasi ketersediaan pangan ini penting sebagai bahan masukan kebijakan terkait dengan perencanaan produksi dan ketersediaan pangan di suatu wilayah. Situasi ketersediaan pangan NBM memberikan gambaran situasi ketersediaan pangan secara rata-rata wilayah, dan tidak menggambarkan situasi ketersediaan pangan individu (Sumber: bkp.pertanian.go.id)


 Dengan melalui analisis NBM maka dapat dianalisis apakah suatu pangan yang tersedia di Provinsi Banten sudah mencukupi sesuai dengan standar Quantity dan Quality. Acuan standar ideal ketersediaan pangan adalah energi sebesar 2.400 kkal/kap/hari, protein 63 gr/kap/hari serta skor PPH 100. Ketersediaan pangan merupakan prasyarat terwujudnya ketahanan pangan.

 

Dinas Ketahanan Pangan melaksanakan Rapat Penyusunan Neraca Bahan Makanan lingkup provinsi banten. Salah satu alat ukur yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketersediaan pangan suatu wilayah (makro) adalah Neraca Bahan Makanan (NBM). NBM merupakan Tabel yang memberikan gambaran tentang situasi ketersediaan pangan untuk dikonsumsi penduduk suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu.

 

Berdasarkan data produksi, cadangan pangan dan estimasi ekspor-impor diperoleh hasil situasi ketersediaan pangan di Provinsi Banten Tahun 2021 yaitu ketersediaan energi sebesar 2.680 kkal/kap/hari atau  111,7% AKE dan ketersediaan protein 138,8 g/kap/hari atau 220,3% AKP. Bahan pangan hewani banyak digunakan untuk industri dan diekspor ke wilayah lain terutama Jakarta, mengingat Banten merupakan daerah penyangga ibukota.

 

Menurut Kadis Ketapang bahwasannya Ketersediaan Pangan di Banten ini sudah cukup dengan beragam Bergizi Seimbang dan Aman untuk di konsumsi.