PENGELOLAAN JERAMI PADI SAWAH SEBAGAI BAHAN ORGANIK TANAH


PENGELOLAAN JERAMI PADI SAWAH
SEBAGAI BAHAN ORGANIK TANAH
Oleh; H. Marin, SP, MM


PENDAHULUAN

Bahan organic berperan penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman.  Jika kadar bahan organic tanah menurun kemampuan tanah mendukung produuktivitas tanaman juga menurun.

            Kadar bahan organic tanah lahan sawah yang secara dikelola secara intensif umumnya sudah rendah (C-organik < 2 %).  Penambahan jerami terus-menerus selama 5 tahun dapat mengurangi dosis pupuk N 50%, penambahan jerami padi selama 2 tahun pemupukan K tidak meningkatkan hasil padi (Byous et al, 2004).  Jerami padi merupakan sumber bahan organic in situ,  saat ini dikelola dengan cara oleh petani.

Permasalahan saat ini, petani masih membakar jerami dan membuang jerami begitu saja keluar petakan sawah.

Jerami Padi dibakar

            Pada awalnya petani mengetahui bahwa pembakaran jerami dapat mengurangi telur hama dan penyakit serta membantu mempercepat masa pengolahan tanah.  Mulai disadari bahwa pembakaran jerami akan kehilangan hampir semua hara N, hara P hilang (+ 25%), hara K hilang (20%) (Doberman dan Fairhurst, 2002).

            Pada umumnya panen padi dilakukan dengan menggunakan perontok tenaga manusia, dan saat ini telah menggunkan power treser.  Panen dengan cara ini tanaman padi dipotong + 10 cm diatas permukaan tanah, dikumpulkan di satu tempat, dilakukan perontokan.  Gabah dibawa puulang dan jerami tetap ditinggalkan di tempat.

            Pembakaran dilakukan pada tumpukan jerami yang telah kering.  Abu hasil pembakaran tidak disebar ke petakan.

            Jerami merupakan sumber bahan organic in situ yang relative murah yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan lahan.  Penggunaan jerami padi ke lahan sawah dapat meningkatkan kadar C-organik tanah, mengurangi kebutuhan pupuk K dan N serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk an-organik.

            Penggunaan jerami dapat dilakukan dengan dikomposkan terlebih ddahulu dengan bantuan mikroorganisme atau ditumpuuk di lahan sawah terlebih dahulu.  Penggunaan kompos jerami dapat diberikan pada musim tanaman selanjutnya.

Jerami Padi dibuang

            Jerami padi dibuang atau dipindahkan keluar petak sawah, dapat ditumpuk di jalan, dijual sebagai bahan baku pabrik kertas, pakan ternak dan tidak dikembalikan ke sawah lagi, sebagai bahan baku pembuatan jamur merang.

            Pengeluaran jerami padi tanpa disertai pemupukan hara K dapat menyebabkan hara K terkuras dari lahan sawah.  Membuang 5 ton jerami padi dari sawah berarti membuang 38 kg N, 5,5 kg P2K5, 142 kg K2) dan 209,5 kg Si.

            Apabila jerami padi dikembalikan akan dapat mengurangi pupuk K yang cukup banyak.  Rekomendasi pemupukan berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) pengembalian jerami pada lahan sawah yang berstatus K sedangg dan tinggi tidak perlu dipupuk KCl.

PEMANFAATAN/PENGELOLAAN

Jerami Dibuat Kompos

            Jerami padi yang diletakan di pinggir petakan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai akan menjadi kompos.  Penggunaan jerami setelah menjadi kompos dapat diberikan dengan cara ditebarkan di antara barisan tanaman, terutama pada daerah barisan yang lebar pada system penanaman legowo.

            Penggunaan kompos jerami in situ dapat meningkatkan kadar bahan organic sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah pertanian.

Jerami Langsung digunakan ke Sawah

            Sebagian petani langsung menggunakan jerami dengan disebar merata ke dalam petakan tanpa dikomposkan atau tanpa ditunggu menjadi kompos.  Masalah yang dihadapi di lapang adalah pemberian jerami yang demikian dapat mengganggu traktor saat pengolahan tanah, membutuhkan waktu antara 2-3 minggu setelah disebar.


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan