TSUNAMI SELAT SUNDA BANTEN-LAMPUNG


TSUNAMI SELAT SUNDA BANTEN-LAMPUNG


Banten – Tsunami TELAHmeninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Banten khususnya daerah pesisir yang menjadi korban keganasan air laut yang selama ini dianggap tenang dan tak menunjukan ancamannya, dalam suasana yang hening disaat para penduduk sedang tenang beristirahat setelah lelah seharian braktivitas, tiba-tiba saja menghempaskan kekuatannya yang salama ini diam dan bersahaja hampir sluruh masyarakat tak percaya jika hal ini adal bencana tsunami yang selama ini di takutkan karna Tsunami Selat Sunda ini berbeda dengan kejadian tsunami lainnya yang sudah terjadi sebelumnya tapi berbeda sekali untuk tsunami selat Sunda ini lantaran tidak disebabkan oleh goyangan gempa bumi, tapi tsunami Selat sunda kali ini tidak ada getaran gempa sedikitpun, sehingga banyak yang mengklaim ini hanya gelombang tinggi air laut saja yang menyembabkan naiknya air laut ke permukaan dengan volume yang cukup besar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sekitar 281 orang korban yang meninggal dunia, serta ada 1.016 orang yang mengalami luka-luka, dan korban lainnya berjumlah 57 orang masih hilang. Sementara itu, 2.500 orang di Lampung mengungsi.
Musibah tsunami Selat Sunda yang melanda Kabupaten Pandeglang, tepatnya di wilayah Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Panimbang dan Carita ini hingga saat ini telah menelan puluhan korban jiwa. Saat ini masyarakat panik berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan dirinya masing-masing menuju lokasi/daerah lain yang memiliki dataran lebih tinggi. Hujan lebat yang masih terus berlangsung hingga sekarang membuat masyarakat terdampak semakin panik. LAZ HARFA bersama tim cepat tanggapnya hingga saat ini siaga di Lokasi Bencana.

Ada beberapa fakta yang mengakibatkan terjadinya tsunami selat sunda dimna Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan ada aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau ditengarai sebagai penyebab dari terjadinya tsunami yang melanda pesisir pantai Banten dan Lampung. Erupsi diperkirakan terjadi pada pukul 21.17 WIB dan mengakibatkan gelombang arus pasang naik. Kemudian selain itu juga adanya fenomena alam ganda Selain erupsi, menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rachmat Triyono mengatakan, tsunami Selat Sunda juga dipicu oleh gelombang pasang karena bulan purnama. "Ada indikasi yang terjadi memang pada hari yang sama ada gelombang tinggi, ada bulan purnama namun juga terjadi erupsi Anak Gunung Krakatau yang diduga mengakibatkan tsunami," katanya. Menurut sumber yang didapat dari ‘Tempo.Co” BMKG pun pada Sabtu pagi pukul 07.00 WIB telah mengeluarkan peringatan dini adanya gelombang pasang setinggi dua meter di perairan Selat Sunda. Peringatan tersebut berlaku hingga tanggal 25 Desember 2018 mendatang. Dan gelombang tinggi yang mengakibatkan tsunami terbentuk setelah terjadi erupsi pada Gunung Anak Krakatau
Kemudian penyebab berikutnya adalah adanya  Longsor Bawah Laut. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan tsunami Selat Sunda tidak dipicu oleh gempa bumi. Sebab, kata dia, tidak ada aktivitas tektonik yang terdeteksi memicu tsunami. "Kemungkinan tsunami terjadi akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau," menurut beliau.
Sutopo mengatakan Badan Geologi memang mendeteksi adanya erupsi Gunung Anak Krakatau pada pukul 21.03 kemarin. Erupsi ini menyebabkan peralatan seismograf setempat rusak. Namun, seismik di Stasiun Setung tak merekam adanya getaran tremor dengan frekuensi tinggi.
Akibat tidak adanya bunyi Peringatan Tsunami atau bunyi sirine tanda bahaya sehingga banyak warga yang tidak tahu bahwa telah terjadi Tsunami pada saat itu karena alarm tersebut tidak bekerja oftimal. Karena alat yang dimiliki oleh BMKG saat ini hanya untuk melaporkan peringatan dini alias early warning system untuk tsunami yang diakibatkan gempa tektonik saja. Selain itu juga sebelum saat terjadinya Tsunami tersebut kondisi cuaca masih seperti biasa aja dalam keadaan cerah sejumlah saksi mata yang selamat dari insiden tsunami Selat Sunda ini mengatakan cuaca pada saat itu di sekitar perairan Tanjung Lesung dalam keadaan cerah saat hari kejadian itu. Bahkan ombak yang hilir mudik pun cenderung tenang.
 
Korban bencana tsunami dan gelombang pasang di Pesisir Barat Provinsi Banten sampai dengan pukul 18.00 WIB mencapai 176 orang meninggal, luka-luka 509 orang, dan 30 orang hilang. Sedangkan korban material mencapai 453 unit rumah dan 9 hotel.
Data korban tersebut diperoleh dari posko BPBD Provinsi Banten yang berada di puskesmas dekat lokasi bencana. Data dari Posko BPBD Provinsi Banten menyebutkan, korban dari Puskesmas di Kecamatan Panimbang yang meliputi Pantai Tanjung Lesung terdapat 12 Korban meninggal dan 151 korban luka-luka.
Di Kecamatan Labuan terdapat 8 korban meninggal dan 53 korban luka-luka serta 2 orang masih hilang.
Kecamatan Carita terdapat 135 korban yang meninggal dunia dan 78 korban yang mengalami luka-luka Kecamatan Menes terdapat 2 korban meninggal dan 14 korban luka-luka.
Kecamatan Cigeulis terdapat 32 korban luka-luka. Kecamatan Sumur terdapat 6 korban meninggal dunia dan 60 korban luka-luka. Kecamatan Cibaliung berdasarkan informasi dari Puskesmas Cibaliung terdapat 70 korban luka-luka.
Dan di kecamatan Jiput terdapat 1 korban meninggal dan 21 korban luka-luka. Sementara itu di Kabupaten Serang lebih tepatnya di kecamatan Cinangka terdapat 12 korban meninggal, 30 korban luka-luka, dan 28 orang masih hilang.
Pencarian korban dan evakuasi Korban hingga saat ini terus dilakukan, mengingat masih banyak tempat-tempat yang masih belum berhasil di tembus dikarenakan terputusnya akses serta banyaknya puing-puing sisa bencana yang menghambat proses evakuasi. Selain itu lokasi bencana yang berada cukup jauh sehingga sulit untuk terjangkau.
Respon cepat Pemerintah Provinsi Banten sesuai arahan Gubernur Banten. Dalam berbagai kesempatan Gubernur Banten, Wahidin Halim memerintahkan aparatur Pemprov Banten untuk benar-benar mempersiapkan penanggulangan bencana secara cepat. “Apabila di BPBD Provinsi Banten masih kurang, kita langsung minta ke pusat melalui BNPB,” ujar Bapak Gubernur Banten.
Dalam upaya penanggulangan bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi di di Provinsi Banten terus dipantau oleh Gubernur Banten, Bpk. Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Bpk. H. Andika Hazrumy. Keduanya, langsung meninjau langsung lokasi-lokasi kejadian dan penampungan pengungsi bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi di sepanjang pesisir Barat Provinsi Banten.
Secara langsung Gubernur Banten meninjau korban bencana tsunami Selat Sunda ke lokasi penampungan korban bencana di Kecamatan Jiput dan Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang. Sedangkan Wakil Gubernur pun melihat lansung ke Kecamatan Carita Kabupaten Serang untuk meninjau korban tsunami Selat Sunda yang menelan banyak korban baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka.
Sejak pada saat terjadi gelombang tsunami yaitu pada hari Sabtu malam kemarim, 22 Desember 2018, Bpaka Gubernur Banten langsung memerintahkan kepada seluruh ASN di Lingkungan Provinsi Banten untuk bergegasdan cepat tanggap untuk segera melakukan penanggulangan terhada korban bencana tersebut. Selain itu juga Gubernur meminta dan memberikan himbauan kepada masyarakat sekitar agar tetap tenang namun waspada.
Untuk penanganan Korban yang terkena tsunami yang berada di wilayah Tanjung Lesung dan Sumur itu telah ditampung di Puskesmas Cigeulis, Puskesmas Cibaliung, Puskemas Sumur, dan Puskesmas Panimbang. Sedang untuk para korban yang berasal dari wilayah Carita dan Labuan, ditampung di Puskesmas Jiput, Puskesmas Labuan, Puskesmas Carita, Puskesmas Mandalawangi dan Puskesmas Menes, segala penanganan dilakukan secara penuh untuk memberikan pelayanan terbaik terhada para korban yang terkena musibah. Sedangkan, untuk para korban yang berada di wilayah Anyer ditampung di Puskesmas Cinangka, dan Koramil Cinangka. Dan apabila tidak tertangani langsung dirujuk ke RSUD Cilegon dan RS Krakatau Medika Cilegon. Dan, korban bencana yang berada di pulau Sangiang ditampung di RS Krakatau Medika Cilegon. Semua unit ambulan dikerahkan hingga arus lalu lintas pun penuh dengan keramaian dan suara sirine ambulan hingga membuat jalanan macet karna saking banyaknya korban yang berjatuhan.
Untuk melakukan aksi cepat tanggap Pemerintah Provinsi Banten langsung mendrop bantuan alat-alat berat ke lokasi kejadian sejak Sabtu malam (22/12/2018). Alat-alat berat tersebut berupa excavator dan loader. Alat-alat sangat tersebut berguna sekali untuk membantu evakuasi korban-korban yang masih terjebak dan membersihkan puing-puing yang menghalangi akses evakuasi. Saat ini, alat-alat berat tersebut berada di Tanjung Lesung, Sumur, Labuan dann Carita Kabupaten Pandeglang, proses evakuasi sangat berjalan lancar meski kondisi cuaca kurang mendukung dengan terus menerus turun hujan kecil sedang yang membuat warga sempat panik dengan kondisi yang kurang mendukung. Sepanjang jalan Menes Pandeglang padet merayap mulai ga bergerak karna banyaknya mobil ambulance dan bantuan yang berdatangan.