PEMBINAAN SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI (SKPG) Di Kabupaten Serang


PEMBINAAN SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI (SKPG)

Di Kabupaten Serang

Dinas Ketahanan Pangan bersama stakeholder dari kabupaten Pandeglang mengadakan Pembinaan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) yang dilaksanakan di BPP Kec. Carenang Kab. Serang (28/7/19). Pertemuan diawali dengan laporan ketua panitia oleh Kepala Bidang Penyelenggaraan Ketahanan Pangan dilanjutkan dengan sambutan dan arahan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten sekaligus membuka secara resmi acara Pembinaan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) di Kabupaten Serang Tahun 2019.

Pembinaan Sistem Kewaspadaan pangan dan Gizi (SKPG) ini lebih menitikberatkan pada pembinaan ibu yang memiliki balita dengan badan dibawah rata-rata dan balita tidak naik berat badan 2 kali penimbangan berturut turut di Kec. Carenang Kab. Serang yang didasarkan pada hasil analisis SKPG Kab. Serang pada bulan Januari sampai dengan April 2019 yang menunjukkan bahwa Kec. Carenang berstatus waspada selama empat  bulan terakhir. Selain itu, pada acara ini juga dibahas mengenai kebijakan yang berkaitan dengan Ketahanan Pangan serta konsumsi pangan menu B2SA. Acara ini juga memfasilitasi pemberian bahan percontohan berupa bahan makanan menu B2SA yang diberikan kepada ibu balita (balita yang memiliki berat badan di bawah standard dan 2T). Narasumber dalam acara ini meliputi Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten (Dr. Moh. Ali Fadillah), tenaga ahli Komisi II DPRD Provinsi Banten (Atmawijaya), dan Kepala Seksi Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kab. Serang (Isma Sartika Surbakti) sebagai praktisi daerah. Diskusi  dipimpin oleh moderator yang berasal dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kab. Serang (Kartono, SP.,MM).

Materi yang disampaikan dalam kegiatan yaitu: (a) Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kab. Serang (Dr. Moh. Ali Fadillah); (b) Peran Ibu dalam Meningkatkan Status Gizi Balita (Atmawijaya); (c) Peningkatan Gizi B2SA melalui KRPL; (d) Pembagian Bahan Percontohan (Drs. H. Dendi Hamadani, M.Si dan Rudi Wahyu Rudito, STP).

Peserta yang hadir berjumlah 80 orang terdiri dari aparatur Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kab. Serang yang menangani SKPG, aparatur Dinas Kesehatan Kab. Serang, Kepala Puskesmas Kec. Carenang dan petugas yang menangani gizi dan kesehatan keluarga, Camat Kec. Carenang, PKK Kec. Carenang, ibu yang memiliki anak balita dengan berat bedan kurang, kader posyandu Kec. Carenang, dan kepala BPP Kec. Carenang.

Hasil dari kegiatan Pembinaan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) TA. 2019 di Kab. Serang adalah sebagai berikut :

 

  1. Provinsi Banten memiliki PERDA tentang Penyelenggaraan Pangan yaitu Perda No. 2 Tahun 2017 yang berisi tentang kebijakan pemerintah daerah dalam penyelenggaran pangan terdiri atas ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, pemanfaatan pangan, dan penanganan kerawanan pangan.
  2. Ketersediaan pangan sebagaimana dimaksud dilaksanakan melalui optimalisasi produksi pangan pokok, pengembangan pangan lokal, penguatan cadangan pangan pemerintah daerah, dan cadangan pangan masyarakat.
  3. Keterjangkauan pangan sebagaimana dimaksud dilaksanakan melalui efektifitas distribusi pangan, pemasaran, perdagangan, stabilitas pasokan harga pangan, dan bantuan pangan.
  4. Pemanfaatan pangan sebagaimana dimaksud dilaksanakan melalui pengembangan pangan lokal, dan peningkatan konsumsi pangan B2SA sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.
  5. Pola perbaikan gizi masyarakat dilakukan melalui perbaikan pola konsumsi pangan, perbaikan atau pengayaan gizi pangan tertentu, penegakan regulasi persyaratan khusus komposisi pangan, pemenuhan kebutuhan gizi, pemenuhan gizi bagi lansia, remaja, ibu hamil, dan balita, penguatan sistem surveilan pangan dan gizi serta penguatan program gizi lintas sector.
  6. Perbaikan gizi sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh perangkat daerah
  7. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi dilakukan sebagai upaya penyediaan data dan informasi tentang keadaan pangan dan gizi secara rutin yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
  8. Berdasarkan hasil analisis SKPG pada bulan Januari sampai dengan April 2019 menunjukkan bahwa status pemanfaatan pangan di Kec. Carenang Kab. Serang berstatus waspada. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis yang berwarna kuning.
  9. Status waspada tersebut disebabkan banyak balita yang tidak naik berat badan setiap kali bulan penimbangan dengan persentase kurang dari 90% selama januari sampai dengan april 2019. Hal ini yang menyebabkan Kec. Carenang menjadi lokasi pertemuan Pembinaan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) di Kab. Serang.
  10. SKPG bukan untuk memunjukkan suatu daerah baik atau buruk, melainkan sebagai suatu alat yang digunakan agar suatu daerah bisa mewaspadai gejala-gejala rentan pangan agar tidak sampai terjadi rawan pangan di daerah tersebut.
  11. Timbulnya maslah kurang gizi pada anak dipengaruhi oleh status gizi ibunya yang akan mempengaruhi status gizi pada usia dewasa. Kurangnya konsumsi makanan yang bergizi dan infeksi penyakit merupakan penyebab langsung, kemiskinan dan pendidikan yang rendah sebagai masalah utama yang harus ditanggulangi.
  12. Kunci sukses status gizi balita adalah IMD dan pemberian ASI eksklusif selama 2 tahun dengan tambahan makanan pendamping yang disebut MPASI.
  13. Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, sampai dengan anak berusia 18 tahun.
  14. Asupan makanan yang dikonsumsi juga harus memperhatikan prinsip gizi seimbang, yaitu seimbang jenis, jumlah dan jadwal dengan tiga kegunaan makanan yaitu zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur yang ketiga fungsinya tidak bisa saling menggantikan.
  15. Pangan B2SA adalah aneka ragam bahan pangan, baik sumber karbohidrat, protein, maupun vitamin dan mineral yang bila dikonsumsi dalam jumlah seimbang dapat memenuhi kecukupan gizi yang dianjurkan dan tidak tercemar  bahan berbahaya yang merugikan kesehatan.
  16. Konsumsi pangan B2SA diperlukan oleh tubuh dikarenakan tidak ada satu jenis pangan yang lengkap gizinya kecuali ASI. Oleh karena itu pemberian ASI eksklusif menjadi sangat penting diberikan kepada bayi 0-6 bulan.
  17. Konsumsi pangan B2SA diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan, kecerdasan, pemeliharaan kesehatan, aktivitas dan lain-lain.
  18. Pemanfaatan pekarangan dapat dilakukan untuk meningkatkan status gizi melalui pengembangan tanaman pangan dan tanaman hortikultura, pengembangan ternak, pengembangan perikanan.

Hasil dari pekarangan dapat bernilai tinggi jika kita mau mengupayakan yang terbaik mulai dari penanaman, panen, sampai dengan pasca panennya. Diharapkan pelaksanaan SKPG pada tahun 2019 dapat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan