INFLASI, RAMADHAN DAN KETAHANAN PANGAN


Oleh : 
Ir. H. AGUS M. TAUCHID S, M.Si

 

Meskipun inflasi dianggap sebagai vitamin bagi Negara maju untuk mengatasi resesi, sebaliknya bagi Negara berkembang seperti Indonesia lebih dianggap sebagai musuh bagi perekonomian karena berpotensi mengurangi pendapatan riil masyarakat. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS Provinsi Banten, dilihat dari indeks harga konsumen, inflasi Provinsi Banten pada Mei-2014 secara tahunan terhitung melambat sebesar 9,68% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 9,80%. Meskipun tingkat inflasi relative masih dibawah dua digit namun inflasi Provinsi Banten masih lebih tinggi dibandingkan dengan nasional yang hanya sebesar 7,3%. Pergerakan naik tingkat inflasi ini sejalan dengan momentum bulan ramadhan yang akan kita masuki pada akhir bulan juni ini. 

Berdasarkan survey BI, penurunan harga bahan makanan seperti cabai, bawang merah, beras dan tempe mampu meredam laju inflasi, meskipun demikian tidak mampu meredam trend kenaikan harga yang didorong  oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi terutama kenaikan tarif transportasi udara. Untuk menjawab persoalan inflasi Provinsi Banten yang masih di atas angka nasional, maka para pemangku kebijakan tentu berkepentingan untuk meredam laju inflasi terutama menjelang momentum ramadhan dan lebaran agar inflasi di Banten tidak mencapai dua digit. 

Inflasi secara umum didefinisikan sebagai kenaikan harga yang terusmenerus, mencakup yang lebih luas dan berlangsung secara umum. Dilihatdari factor penyebabnya bisa dilihat dari sisi permintaan, penawaran, dan gejolak atau shock. Dilihat dari sisi permintaan maka factor penentu inflasi bisa dikendalikan melalui pengendalian jumlah uang beredar melaluime kanisme kebijakan moneter. Pengendalian inflasi inidi setiap Negara menjadi tugas otoritas moneter atau di Indonesia dilaksanakan oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral walaupun sekarang terjadi pembagian tugas dengan otoritas jasa keuangan (OJK) sebagai supervisor  bagi perbankan dan jasa keuangan lainnya.

Sedangkan disisi shock biasanya merupakan siklus yang rutinterjadi yang melibatkan factor ekspektasi yang secara umum menurut teorirational expectationyang dikembangkan oleh Milton Friedman sebagai teori harapan rasiona latau ratek. Berdasarkan pengalaman Indonesia, saat bulan puasa dan idul fitri merupakan momentum  tahunan terjadi kenaikan harga yang digerakan oleh hysteria massa. Pengendalian diri sebagai pengejewantahan dari nilai-nilai spiritual puasa, kadang tidak bisa meredam nafsu hedon untuk belanja berlebih. Akibat yang muncul adalah tingkat konsumsi yang meningkat secara drastic diiringi oleh jumlah uang beredar yang meningkat secara signifikan sebagai ikutan dari adanya tunjangan hari raya yang biasa diberikan menjelang lebaran, kiriman yang meledak dari TKI yang bekerja di luar negeri, gajike 13 bagi PNS yang rutin biasa diberikan menjelang penerimaan siswabaru, sertara pelan kenaikan gaji. Dorongan permintaan ini berkombinasi dengan shock menghasilkan kenaikan periodic harga barang-barang terutama kebutuhan pangan setiap puasa dan menjelang lebaran.

Satu lagi potensi inflasi yaitu dari sisi penawaran. Berbicara tentang penawaran makatidak lepas dari ketersediaan pangan. Ketersediaan pangan tak lepas dari persoalan distribusi dan produksi. Untuk meredam inflasi dari sisi distribusi,  maka terjaminnnya pasokan dan jalur distribusi menjadi keharusan. Tak pelak terjaminnya kelancaran jalur transportasi harus menjadi prasyarat wajib, tidak lagi terkendala banjir maupun kemacetan.

Persoalan disisi penawaran yang lain adalah pada sisi produksi. Menjadi penting adalah kepastian ketersediaan pangan. Faktor penting ketersediaan pangan yaitu adalah perubahan iklim yang merupakan salah satu fenomena alam dimana terjadi perubahan nilai unsur-unsur iklim baik secara alamiah maupun yang dipercepat akibat aktifitas manusia di muka bumi ini. Fenomena perubahan iklim yang dianggap paling mempengaruhi adalah El-Nino yang merupakan kejadian penurunan jumlah dan intensitas curah hujan akibat naiknya suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik Selatan yang mendorong mengalirnya massa uap air di wilayah Indonesia kearahtimur. Fenomena ini sering terjadi dan berdampak terhadap produksi dan ketersediaan pangan di Indonesia yang meliputi penurunan produksi padi, penurunan pendapatan petani, berimbas pada kerawanan pangan dan peningkatan kenaikan harga pangan.

Berdasarkan Prognosa Kebutuhan Pangan Menjelang Hari Besar Keagamaan Dan Nasional tahun 2014, dapat dilihat pada table berikut :

 

Untuk tahun 2014 ini berdasarkan informasi dari BMKG Statsiun Serang, potensi El Nino bersifat lemah dan berdampak relative kecil terhadap kondisi iklim, meskipun demikian karena El-Nino bersifat samar dan kurang jelas, pemerintah daerah harus tetap melakukan kesiap-siagaan seandainya ada perubahan peramalan yang dilakukan oleh BMKG.

Di samping factor eksternal perubahan iklim, sampai dengan bulan Juni 2014, secara umum berdasarkan pemantauan yang dilakukan dan informasi dari Kabupaten/Kota harga bahan kebutuhan pokok di Provinsi Banten relative stabil. Bahkan untuk komoditi tertentu seperti cabe merah harga mengalami penurunan harga rata – rata cukup tajam dari Rp.21.846/kg pada tangga l03 Mei 2014 menjadi Rp. 17.353/kg pada tanggal 14 Juni 2014. Hal ini disebabkan karena beberapa wilayah produsen cabe merah saat ini sedang mengalami panen.

Sedangkan kebutuhan pokok khususnya volatile foods seperticabe, bawang merah, dan kentang sebagian besar selama ini masih dipenuhi dari luar Provinsi Banten, hal yang perlu menjadi perhatian adalah adanya perbaikan jalur transportasi utamanya jalur pantura dapat menyebabkan meningkatnya biaya angkut serta bertambahnya waktu pengiriman. Meskipun relative aman, kondisi harga dan persediaan yang dalam sebulan terakhir harus menjadi perhatian karena memasuki bulan Juni menjelang masuknya bulan Ramadhan, harga akan cenderung berfluktuasi dan meningkat.

Dari sisi penawaran ini, maka pemerintah daerah berkewajiban untuk terus menyebarkan informasi terkait dengan perkiraan iklim, gerakan percepatan tanam dengan memanfaatkan ketersediaan air, penanaman varietas toleran kekeringan, penanaman palawija hemat air dan polatanam sesuai spesifikasi lokasi, bantuan benih tahan kekeringan dan benih palawija untuk rotasi tanaman padi, pengawalan dan monitoring secara intensif padadaerah-daerah yang berpotensi terkena kekeringan dengan gerakan khusus sosialisasi menghadapi El Nino, serta penyiapan dukungan sarana produksi pertanian berikut sosialisasi kepada daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Mengantisipasi potensi rutinitas lonjakan angka inflasi menjelang bulan ramadhan, maka secara umum untuk meredam gejolak harga hal krusial yang dilakukan oleh pemerintah terutama adalah affirmasi kelancaran jalur distribusi pangan dan juga jaminan ketersediaan bahan pokok terutama bahan makanan. Titik focus perhatian komoditas terutama ditekankan pada komoditas daging ayam dan telur ayam sebagai dampak kebijakan pengaturan harga jual dan produksi Day Old Chicken (DOC), daging sapi karena ketergantungan impor yang cukup tinggi, intensitas El Nino meningkat dari moderat menjadi kuat, dan rencana pemerintah untuk merevisi tarif batas atas angkutan udara yang akan diterapkan setelah lebaran.

 

 

 

 

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan