Neraca Bahan Makanan (NBM) Banten Tahun 2017


RINGKASAN EKSEKUTIF

Ketersediaan pangan merupakan salah satu pilar ketahanan pangan yang penyelenggarannya dilaksanakan oleh Pemerintah baik di pusat maupun di daerah sesuai amanat  Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012. Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten menyusun kajian analisis ketersediaan pangan dengan menggunakan Neraca Bahan Makanan (NBM) tahun 2017 sebagai upaya pemantauan ketersediaan pangan penduduk secara berkala.

Kegiatan ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis jumlah ketersediaan pangan penduduk Provinsi Banten tahun 2016, (2) Untuk mengetahui gambaran ketersediaan energi, protein dan lemak per kapita berbagai jenis bahan makanan di Provinsi Banten, (3) Menganalisis situasi keanekaragaman ketersediaan pangan penduduk Provinsi Banten tahun 2016 sebagai bentuk pemantauan terhadap penyediaan pangan penduduk, (4) Untuk menghasilkan suatu komposisi norma (standart) pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi penduduk, (5) Merumuskan kebijakan pengembangan penyediaan pangan tahun 2017-2021.

Data yang digunakan adalah data sekunder lintas OPD terkait ketahanan pangan di Provinsi Banten, yaitu data jumlah dan laju pertumbuhan  penduduk, data pengadaan atau penyediaan  pangan (produksi, impor, ekspor, dan perubahan stok), data penggunaan  pangan dan faktor konversi pangan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Program Aplikasi Analisis Ketersediaan Pangan hasil pengembangan dari Aplikasi Analisis Pola Pangan Harapan Neraca Bahan Makanan (Baliwati et. al 2005) oleh MWA Training & Consulting tahun 2015 yang disesuaikan dengan penyusunan yang dilakukan oleh tim NBM Pusat Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan Microsoft Excell yaitu meliputi: (1) Analisis situasi ketersediaan pangan (angka kecukupan energi, angka kecukupan protein, dan skor PPH) tahun 2017 serta tingkat pencapaiannya terhadap ideal dan (2) Analisis dan evaluasi pencapaian skor PPH,  penyediaan dan produksi pangan sesuai tahun dasar.

Daya dukung wilayah Provinsi Banten dalam menyediakan pangan bagi penduduknya pada tahun 2016 adalah sebesar 66,84% dari AKE atau setara dengan 1.604 kkal/kapita/hari. Adapun ketersediaan protein sebesar 84,33 g/kap/hari  (133,8% AKP). Kualitas (keanekaragaman) pangan yang dapat disediakan secara mandiri oleh Provinsi Banten yaitu sebesar 64,7 dari skor maksimal 100. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa penyediaan pangan di Provinsi Banten selain bertumpu pada produksi sendiri juga ditopang oleh pasokan dari daerah lain (impor). Sehingga situasi ketersedian pangan Provinsi Banten  tahun 2017 disusun juga dengan menggunakan data ekspor-impor pangan menggunakan pendekatan data estimasi.

Berdasarkan data produksi, cadangan pangan dan estimasi ekspor-impor diperoleh hasil situasi ketersediaan pangan di Provinsi Banten yaitu ketersediaan energi sebesar 2.593 kkal/kap/hari atau  108,4% AKE dan ketersediaan protein  74,97 g/kap/hari atau 119,1% AKP. Bahan pangan hewani banyak digunakan untuk industri dan diekspor ke wilayah lain terutama Jakarta, mengingat Banten merupakan daerah penyangga ibukota.

Pangan yang tersedia di Provinsi Banten belum cukup beragam dengan skor PPH sebesar 82,8. Pangan yang sudah mencapai skor PPH maksimum adalah padi-padian (25,0), pangan minyak dan lemak (5,0) dan gula (2,5). Pangan yang belum mencapai skor PPH maksimum adalah umbi-umbian (0,9 dari 2,5), pangan hewani (21,4 dari 24), buah biji berminyak (0,1 dari 1), kacang-kacangan (8 dari 10), serta sayur dan buah (20 dari 30).

Ketersediaan pangan di Provinsi Banten masih dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk Provinsi Banten dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,07% setiap tahunnya. Ketersediaan pangan harus dijamin melalui jaminan pasokan dan perlindungan produksi pangan. Komoditas gula pasir, terigu, susu, minyak goreng, dan sagu tidak dapat diproduksi secara subsisten sehingga harus dijamin pasokannya dari daerah lain.

Skor PPH yang mencerminkan kualitas penyediaan pangan yang beragam dan setara dengan keragaman konsumsi pangan penduduk Banten. Peningkatan PPH atau keragaman pangan dapat dilakukan dengan peningkatan ketersediaan kelompok pangan umbi-umbian, pangan hewani, buah biji berminyak, kacang-kacangan serta buah dan sayur.

Neraca Bahan Makanan perlu disusun setiap tahunnya untuk monitoring ketersediaan pangan di wilayah Provinsi Banten dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan penduduk agar terwujud ketahanan pangan yang optimal.  Peningkatan produksi pangan wilayah dibutuhkan untuk mencapai kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. Keluarnya (ekspor) bahan pangan dari Provinsi Banten perlu diperhatikan untuk tetap menjamin ketersediaan pangan Provinsi Banten. Ketersediaan data yang lengkap dan valid dibutuhkan untuk mendapatkan hasil analisis ketersediaan pangan yang baik dan menggambarkan kondisi yang sebenarnya.

 

 

 

Klik berikut ini ..............................

Berkas Lampiran




Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan